Minggu, 19 Juni 2016

Reklamasi Jakarta

Pembangunan reklamasi pantai dan eksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan di Ibukota Jakarta yang didasarkan pada kepentingan ekonomis semata, menurut Sekertaris Jenderal (Sekjen) Koalisi Perkotaan Jakarta (Jakarta Urban Coalition) Ubaidillah, pada suatu ketika akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologis yang berdampak besar dan berpotensi menenggelamkan Jakarta, termasuk potensi dampak besar pada pembangunan mega proyek reklamasi tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) di teluk Jakarta yang kami analisis dan khawatirkan.
Sebagaimana masyarakat dan publik ketahui, bahwa mega proyek reklamasi pulau-pulau buatan dan reklamasi pesisir pantai diteluk Jakarta telah dimulai. Proyek yang sebelumnya bernama JCDS (Jakarta Coastal Defence Strategies) berganti nama menjadi tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall/ Outer Sea Wall), dan atau juga dinamakan sebagai proyek NCICD (National Capital Integrated Coastal Development- Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara).
Ubaidillah menjelaskan, pada dokumen konsep proyek reklamasi Giant Sea Wall atau NCICD yang direncanakan oleh pemerintah dan pengembang adalah pulau bergambar burung garuda (lambang Negara Indonesia), yang dalam rencana pembangunannya dibagi dalam tiga tahap/fase (ABC). Dimana tahap A adalah pekerjaan penguatan dan peninggian tanggul disepanjang 32 km bibir pantai Jakarta dan telah memulai pekerjaan konstruksi awal (Ground Breaking) pada 9 Oktober 2014 dengan alokasi anggaran lebih dari 1 triliun yang bersumber dari Pemprov DKI Jakarta dan swasta pengembang.
Tahap B pada proyek Giant Sea Wall atau NCICD adalah pekerjaan pembangunan dinding laut luar sebelah barat (gambar burung garuda) yang akan dimulai pada tahun 2018, dan sementara pada rencana tahap C adalah pekerjaan pembangunan dinding laut luar sebelah timur (berada diutara Tanjung Priuk-Koja-Cilincing) yang akan dimuai setalah tahun 2023.

Jumat, 17 Juni 2016

Denda Untuk si Pelanggar

Get ready for bikers and cars are desperate crossed paths Transjakarta (busway). Starting last Monday, which was caught entering the track will get a ticket up, which was given a blue slip with a fine of Rp 500 thousand. Netizen also reminded motorists to obey the law if unwilling ticket, but there is also a doubt this is the maximum penalty.  

In fact in many ways it was the city government to sterilize the busway lane. The threat of a maximum fine has also been raised several times. In fact, it still was not clean lane.  Get ready for motorcyclists and car reckless crossed paths Transjakarta (busway). Starting today, the availability of the band will sign up to get a ticket, which was given a blue slip with a fine of Rp 500 thousand. Netizen also reminded motorists to obey the law if unwilling ticket, but there is also a doubt this is the maximum sanction. 


In fact in many ways it was the city government to sterilize the busway lane. The threat of a maximum fine has also been raised several times. In fact, it still was not clean lane.
Starting last Monday, the breakthrough busway will be given a blue slip him a ticket. That is, the application of the maximum penalty. Conditions speeding ticket fines through busway set out in Article 287 of Law Number 22 of 2009 on Traffic and Road Transport and sentenced two months imprisonment or a fine of Rp 500 thousand .

Kota Tasikmalaya

Saya di besarkan di kota santri itu julukan untuk kota Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya terletak di jawa barat antara Garut dan Ciamis. Kenapa disebut kota santri ? Karena di Tasikmalaya namyak Pesantren-pesantren dan disitulah kenapa di sebut kota santri.
Di Tasikmalaya banyak destinasi berlibur terbukti karena pernah disambangi my trip my adventure sebanyak 2 kali,hehe. Salah satu yang terkenal di tasikmalaya adalah Gunung Galunggung. Gunung Galunggung termasuk gunung berapi yang aktif,anak gunung galunggung ini pernah meletus pada tahun 1987 sampai sekarang muntahan material-material seperti batu dan tanah masih banyak (Gimana kalo ibu atau bapanya ya ?).

Tasikmalaya juga terkenal dengan industri kelom geuli,payung geulis dan bordir. Kelom geulis merupakan sendal yang terbuat dari kayu, sedangkan payung geulis terbuat dari kertas payung geulis bukan payung yang kita pakai disaat hujan tapi payung untuk pajangan.

Kamis, 16 Juni 2016

Kemacetan

Kemacetan lalu lintas telah menjadi masalah yang kronis di wilayah DKI Jakarta. Nyaris setiap hari masyarakat yang menggunakan moda transportasi darat (kecuali kereta api) di Jakarta dipusingkan oleh kemacetan yang seperti tiada habisnya. Berbagai usaha pemerintah daerah DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan pun telah dilakukan akan tetapi belum membuahkan hasil. Bahkan kini kemacetan di Jakarta justru bertambah parah. Jika sebelumnya kemacetan hanya terjadi di saat pagi hari (jam berangkat kantor) dan sore hari (jam pulang kantor), kini kemacetan nyaris terjadi sepanjang hari di banyak titik di jalan-jalan di Jakarta. Kemacetan adalah kondisi dimana terjadi penumpukan kendaraan di jalan. Penumpukan tersebut disebabkan karena banyaknya kendaraan tidak mampu diimbangi oleh sarana dan prasana lalu lintas yang memadai. Akibatnya, arus kendaraan menjadi tersendat dan kecepatan berkendara pun menurun. Rata-rata kecepatan berkendara di Jakarta saat ini berada di kisaran 15 km/jam, yang menurut standar internasional angka ini tergolong sebagai macet. Angka ini di bawah angka kecepatan berkendara di kota di dunia, seperti misalnya Tokyo. Data ini menunjukkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta cukup parah. Kemacetan ini disebabkan karena melonjaknya jumlah kendaraan bermotor yang ada di Jakarta. Tingginya tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta ini tidak diimbangi oleh meningkatnya sarana dan prasarana lalu lintas yang memadai. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta diperkirakan berada di kisaran 5-10% per tahun dengan motor sebagai porsi terbesar penyumbangnya. Berbanding kontras dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, pertumbuhan panjang jalan bahkan kurang dari 1% per tahunnya. Akibatnya, kendaraan bermotor semakin menumpuk di jalanan Jakarta dan kemacetan pun tidak terhindari.

Orang Perbatasan

Kita sebagai warga negara Indonesia, saya yakin kita tidak tahu tentang kondisi sesungguhnya di daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain. Jangan bayangkan dengan kondisi mewah & sudah terjangkau dengan alat komunikasi & listrik, karena alat transportasi saja sangat sulit di temukan didaerah perbatasan. Kita hanya bisa menjangkau dengan berjalan kaki,menembus lembat hutan rimba & anak sungai yang arusnya sangat deras.


Bagi mereka akses listrik, transportasi,kesehatan & pendidikan adalah barang yang sangat mewah untuk mereka jumpai.Mereka hanya di perhatikan ketika musim Pemilu datang,banyak orang & pejabat yang dating ke daerah mereka guna meminta suara mereka. Tapi setelah pemilu berakhir, daerah mereka tidak akan pernah di kunjungi lagi oleh siapa pun & sunyi sepi di tengah hutan rimba.


Mereka adalah warga negara Indonesia,yang mempunyai hak & kewajiban yang sama seperti kita yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia. Ditengah sibuknya suasana ekonomi & germuruhnya politik yang gaduh, mereka tidak pernah & tidak mau tahu hal tersebut. Karena hal itu semua,tidak akan mengubah kondisi mereka saat ini menjadi lebih baik.


Jangan salahkan mereka, kalau identitas mereka gadaikan demi sebuah kehidupan yang lebih baik karena mereka lebih di hargai di negara orang lain ketimbang di negaranya sendiri. Yang sudah puluhan tahun hidup, tapi tidak pernah di pedulikan keadaan kehidupan mereka oleh para petinggi bangsa kita.

Jakartaaa

Kerasnya jakarta, kata ini mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita atau dalam obrolan kita sehari-hari kita sering mendengarnya sebagai ungkapan kekecewaan mereka yang hidup dan mencari rezeki di kota besar ini. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang-orang yang sudah menjadi korban dari kerasnya kota ini, kota yang menjadi ibu dari kota-kota dinegri ini, Kota yang menjadi pusat pemerintahan negri ini, kota yang dipenuhi oleh beragam suku, budaya, agama, dan profesi yang berbeda-beda dari berbagai kalangan, entah kaya atau miskin. Jakarta, kota yang selalu dipenuhi dengan kekerasan, persaingan, kebohongan dan kemunafikan para pemimpinnya yang sebagian besar dari mereka hanya memperkaya diri dan memikirkan kepentingannya saja, dengan memanfaatkan kerasnya jakarta. Jakarta, kota yang memiliki daya tarik bagi para prantau dari kota-kota kecil untuk mencari pekerjaan yang mungkin bisa menopang kebutuhan hidup mereka yang merantau di kota besar ini, Namun tak sedikit pula dari mereka yang ingin mengadu nasib di kota besar ini hanya bermodalkan nekat dan niat, pada akhirnya tidak jarang pula dari mereka yang kemudian justru terjerumus dalam jurang kegelapan, jurang kehancuran, jurang yang penuh dengan kehitaman, jurang yang sesak dengan jeritan duka dan tangisan jiwa yang setiap saat selalu terdengar oleh telinga hati. Tidak jarang pula sering kita jumpai banyak dari para perantau yang gagal mewujudkan mimpinya ditengah persaingan dan kerasnya kehidupan dijakarta serta kebutuhan hidup yang semakin mendesak banyak dari mereka yang akhirnya memutar otak, dan merubah cara berfikir serta prinsipnya untuk menyesuaikan diri ditengah lingkungan barunya, ada pula dari mereka yang mempunyai prinsip “ora malu, ora mangan” (gak malu gak makan) dan dengan terpaksa memutuskan urat malu-malunya dengan menjadi pengemis, pengamen, pengasong, bahkan ada pula yang menjadi penipu, pencopet, jambret, dll itu semua dilakukan atas dasar dorongan perut dan bertahan hidup ditengah kerasnya persaingan di kota besar ini, dan pada akhirnya diCAP menjadi sampah masyarakat kota ini, ditambah lagi dengan nilai pengangguran yang setiap tahunnya selalu bertambah dan bertambah yang berawal dari persaingan dan kerasnya kota jakarta serta kegagalan mimpi yang tak terbeli. Tidak sulit bagi kita melihat pemandangan yang mungkin tidak asing dimata kita, di terminal, lampu merah, halte bus, dan trotoar dipinggiran kota ini yang menjadi tempat tinggal dan lahan untuk mencari nafkah bagi para pengamen, pengemis, dan pengasong, bahkan para pencopet dan penjambret serta para pelaku kriminal lainnya yang awalnya menjadi korban persaingan kerasnya kota jakarta dan mendorong mereka untuk berbuat nekat. Lalu dimanakah peran pemerintah dan para pemimpin kita (khususnya kota ini)..?, apakah mereka sedang sibuk meracik dan merencanakan sesuatu untuk mereka yang telah menjadi sampah masyarakat..?. Bahkan kita sering mendengar dan melihat mereka hanya ditangkap, didata (dimintai keterangan) dan dilepaskan kembali kemudian ditangkap, didata  lagi dan melepaskannya kembali tanpa pembekalan yang cukup untuk menjamin mereka agar tidak lagi kembali kejalan dimana mereka menjadi sampah masyarakat dan sasaran petugas terkait. Bahkan yang lebih tragis dan sangat meyedihkan sekali, mereka justru di manfaatkan untuk dijadikan objek projek demi kepentingan bisnis yang dapat menarik keuntung materi suatu  produk atau lembaga yang tidak bertanggung jawab. Dalam syair-syair lagu musisi ternama “maestro” IWAN FALS yang menurut sebagian masyarakat lagu-lagunya mewakili suara hati rakyat yang terpendam, banyak menuliskan tentang kenyataan yang sering sekali dijumpai selama ini, salah satunya yaitu dengan lagu berjudul “pijar matahari dan kontrasmu bisu” yang menceritakan tentang begitu dekat dan banyaknya “gembel” (orang yg tidak beruntung dan bergantung dikota ini bahkan tidak mempunyai tempat tinggal yang layak), di kota besar ini dan menceritakan mereka yang melihat kenyataan ini lalu bersikap seolah tidak pernah melihat dan mengetahuinya bahkan seakan tidak peduli, pada kenyataannya mereka pasti melihatnya dan megetahui kenyataan tersebut, lagu ini segaligus kritikan untuk pemimpin atau pemerintah yang berperan menangani masalah ini dan bagi mereka yang berpura-pura tidak mengetahui kenyataan ini.

Minggu, 12 Juni 2016

Kurikulum bukan penentu sukses

mengenai kurikulum baru 2013 itu saya kurang setuju karena kurikulum bukan penentu satu-satunya untuk menjadikan pendidikan di indonesia ini menjadi pendidikan yang unggul, meskipun kurikulum itu alat vital dalam suatu pendidikan bangsa dan negara. Akan tetapi yang harus dipentingkan adalah keprofesionalan guru-guru. Meskipun diadakan perubahan kurikulum baru yaitu kurikulum  2013, namun tingkat keprofesionalan guru diabaikan maka itu akan percuma. Berhasil tidaknya suatu pendidikan sebenarnya tidak hanya tergantung pada kurikulum apa yang digunakan, tetapi tergantung pada kemampuan dan keberhasilan guru dalam mengajar. Peran guru dalam pendidikan itu sangat penting karena proses pelaksana kurikulum adalah guru. Jadi kemampuan guru dalam mengajar harus dipertimbangkan secara matang-matang.
Disamping itu mengubah kurikulum bukanlah pekerjaan yang mudah dan juga membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit. Praktik pendidikan di sekolah senantiasa jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan teori kurikulum. Bukan sesuatu yang aneh, bila sesuatu teori kurikulum baru menjadi kenyataan setelah 50 sampai 75 tahun kemudian. Kelambanan ini terjadi antara lain karena kurikulum banyak yang lebih ingin berpegang pada yang telah ada, merasa lebih aman dengan praktik-praktik rutin dan tradisional daripada mencoba hal-hal baru, yang memerlukan pemikiran dan usaha yang lebih banyak dan ada kalanya menuntut perubahan pada diri guru itu sendiri.
Adapun mengenai materi IPA dan IPS menjadi model tematik di pelajaran-pelajaran lainnya dalam kurikulum 2013 nanti cenderung kurang efektif karena ada materi-materi dalam IPA yang tidak bisa digabungkan dengan pelajaran lainnya. Apabila digabungkan anak akan kebingungan dalam menangkap materi. Belum lagi anggaran dana yang dibutuhkan untuk perubahan kurikulum memakan dana yang tidak sedikit. Disamping itu proses sosialisasinya juga terlalu pendek padahal tahun ajaran baru sudah di depan mata. Guru-guru baru saja mempersiapkan kurikulum lama yang harus diperkaya dengan pendidikan karakter. Tiba-tiba kurikulumnya harus berubah lagi. Hal tersebut membutuhkan kesiapan pada guru. Kalau ada empat yang penting. Nomor satu guru, dua guru, tiga guru, dan empat guru. Jadi begitu pentingnya kemampuan guru. Oleh karena itu guru juga harus terus dipacu kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru. Peningkatan-peningkatan kecakapan profesionalisme mereka harus secara terus menerus. Perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi kurikulum baru 2013 mendatang mungkin tidak membawa sesuatu yang baru. Dimana konsep kurikulum baru 2013 sudah pernah muncul yaitu mengenai proses pembelajaran yang mendorong agar siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang sudah diterapkan pada kurikulum 1985 dengan nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). konsep yang diusung pada kurikulum baru ini tidak ada yang baru. Semua yang coba digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini hanya mengulang kurikulum yang dulu pernah digunakan. Bahwasanya alasan-alasan yang dikemukakan oleh pihak kementerian tidak memiliki landasan kuat, bahkan terkesan hanya opini. Tidak ada hasil riset tentang dampak dari KTSP yang membuatnya harus diganti, tentu menjadi pertanyaan bagi publik mengenai perubahan kurikulum ini. Memang pemerintah memberi alasan, tapi itu seperti hanya bohong-bohongan saja karena wujudnya opini. Tak ada hasil riset kenapa kurikulum KTSP harus diubah.

kekerasan pada anak

Hampir semua anak [dan anak-anak] dilahirkan karena keinginan ayah-ibunya [ini juga berarti, ada anak yang dilahirkan di luar rencana]. Walaupun ada penyebutan anak di luar nikah, lebih bermakna anak yang dilahirkan sebelum sang ibu menikah; sedangkan perbuatan yang menjadikan anak itu ada, merupakantindakan yang penuh kesadaran.
 
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak [misalnya bertambah besar, pintar, dan lain-lain] di tengah keluarganya, sangat berkaitan dengan berbagai faktor yang saling melengkapi satu sama lain. Semuanya itu, sekaligus menjadikan anak mampu berinteraksi dengan hal-hal di luar dirinya [misalnya orang tua, adik-kakak, teman sebaya, tetangga, sekolah, masyarakat, dan lain-lain]. Interaksi itu ditambah dengan bimbingan serta perhatian utuh dari orang tua menghasilkan berbagai perubahan, pertumbuhan, perkembangan pada anak, menyangkut fisik, psikhis, sosial, rohani, dan intelektual, pola pikir, cara pandang, dan lain-lain.
 
Seiring dengan itu [perubahan, pertumbuhan, perkembangan], seringkali terjadi benturan-benturan ketika anak [dan kreativitas pikiran dan tingkah lakunya] berhadapan dengan ayah-ibu mereka serta orang dewasa lainya. Dan tidak menutup kemungkinan, dampak dari benturan-benturan itu adalah berbagai bentuk perlakuan [kekerasan fisik, kata, psikhis yang dibungkus dengan kata-kata semuanya adalah nasehat dan didikan] orang dewasa kepada anak [dan anak-anak]. Hal itu terjadi karena orang dewasa [atas nama orang yang melahirkan, yang memberi kehidupan, yang mengasuh, lebih tua, lebih dewasa, lebih pengalaman, lebih tahu, harus didengar, harus dihormati, dan lain-lain] menganggap anak [dan anak-anak] telah melawannya, bandel, tidak mau dengar-dengaran, keras kepala, serta telah melakukan banyak tindakanperlawanan terhadap orang yang lebih tua. Tindakan-tindakan dalam rangka upaya pendisiplinan, menuntut kataatan tersebutlah yang menjadikan orang tua memperlakukan anak-anak mereka secara fisik dan psikologis, sehingga berakibat penderitaan, tidak berdaya, bahkan kematian.

Rabu, 01 Juni 2016

Upaya Pencegahan Narkoba

Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di sekolah. Yang pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan penggunaan narkoba pada anak-anak. Strategi untuk mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering digunakan.
Kedua, dengan menekankan secara jelas kebijakan tidak pada narkoba. Mengirimkan pesan yang jelas tidak menggunakan membutuhkan konsistensi sekolah-sekolah untuk menjelaskan bahwa narkoba itu salah dan mendorong kegiatan-kegiatan anti narkoba di sekolah. Untuk anak sekolah harus diberikan penjelasan yang terus-menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak.
Terakhir, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara orang dewasa dan remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi model yang lebih berpengaruh.
Oleh sebab itu, mulai saat ini pendidik, pengajar, dan orang tua, harus sigap serta waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan dengan baik.