Kamis, 16 Juni 2016

Jakartaaa

Kerasnya jakarta, kata ini mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita atau dalam obrolan kita sehari-hari kita sering mendengarnya sebagai ungkapan kekecewaan mereka yang hidup dan mencari rezeki di kota besar ini. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang-orang yang sudah menjadi korban dari kerasnya kota ini, kota yang menjadi ibu dari kota-kota dinegri ini, Kota yang menjadi pusat pemerintahan negri ini, kota yang dipenuhi oleh beragam suku, budaya, agama, dan profesi yang berbeda-beda dari berbagai kalangan, entah kaya atau miskin. Jakarta, kota yang selalu dipenuhi dengan kekerasan, persaingan, kebohongan dan kemunafikan para pemimpinnya yang sebagian besar dari mereka hanya memperkaya diri dan memikirkan kepentingannya saja, dengan memanfaatkan kerasnya jakarta. Jakarta, kota yang memiliki daya tarik bagi para prantau dari kota-kota kecil untuk mencari pekerjaan yang mungkin bisa menopang kebutuhan hidup mereka yang merantau di kota besar ini, Namun tak sedikit pula dari mereka yang ingin mengadu nasib di kota besar ini hanya bermodalkan nekat dan niat, pada akhirnya tidak jarang pula dari mereka yang kemudian justru terjerumus dalam jurang kegelapan, jurang kehancuran, jurang yang penuh dengan kehitaman, jurang yang sesak dengan jeritan duka dan tangisan jiwa yang setiap saat selalu terdengar oleh telinga hati. Tidak jarang pula sering kita jumpai banyak dari para perantau yang gagal mewujudkan mimpinya ditengah persaingan dan kerasnya kehidupan dijakarta serta kebutuhan hidup yang semakin mendesak banyak dari mereka yang akhirnya memutar otak, dan merubah cara berfikir serta prinsipnya untuk menyesuaikan diri ditengah lingkungan barunya, ada pula dari mereka yang mempunyai prinsip “ora malu, ora mangan” (gak malu gak makan) dan dengan terpaksa memutuskan urat malu-malunya dengan menjadi pengemis, pengamen, pengasong, bahkan ada pula yang menjadi penipu, pencopet, jambret, dll itu semua dilakukan atas dasar dorongan perut dan bertahan hidup ditengah kerasnya persaingan di kota besar ini, dan pada akhirnya diCAP menjadi sampah masyarakat kota ini, ditambah lagi dengan nilai pengangguran yang setiap tahunnya selalu bertambah dan bertambah yang berawal dari persaingan dan kerasnya kota jakarta serta kegagalan mimpi yang tak terbeli. Tidak sulit bagi kita melihat pemandangan yang mungkin tidak asing dimata kita, di terminal, lampu merah, halte bus, dan trotoar dipinggiran kota ini yang menjadi tempat tinggal dan lahan untuk mencari nafkah bagi para pengamen, pengemis, dan pengasong, bahkan para pencopet dan penjambret serta para pelaku kriminal lainnya yang awalnya menjadi korban persaingan kerasnya kota jakarta dan mendorong mereka untuk berbuat nekat. Lalu dimanakah peran pemerintah dan para pemimpin kita (khususnya kota ini)..?, apakah mereka sedang sibuk meracik dan merencanakan sesuatu untuk mereka yang telah menjadi sampah masyarakat..?. Bahkan kita sering mendengar dan melihat mereka hanya ditangkap, didata (dimintai keterangan) dan dilepaskan kembali kemudian ditangkap, didata  lagi dan melepaskannya kembali tanpa pembekalan yang cukup untuk menjamin mereka agar tidak lagi kembali kejalan dimana mereka menjadi sampah masyarakat dan sasaran petugas terkait. Bahkan yang lebih tragis dan sangat meyedihkan sekali, mereka justru di manfaatkan untuk dijadikan objek projek demi kepentingan bisnis yang dapat menarik keuntung materi suatu  produk atau lembaga yang tidak bertanggung jawab. Dalam syair-syair lagu musisi ternama “maestro” IWAN FALS yang menurut sebagian masyarakat lagu-lagunya mewakili suara hati rakyat yang terpendam, banyak menuliskan tentang kenyataan yang sering sekali dijumpai selama ini, salah satunya yaitu dengan lagu berjudul “pijar matahari dan kontrasmu bisu” yang menceritakan tentang begitu dekat dan banyaknya “gembel” (orang yg tidak beruntung dan bergantung dikota ini bahkan tidak mempunyai tempat tinggal yang layak), di kota besar ini dan menceritakan mereka yang melihat kenyataan ini lalu bersikap seolah tidak pernah melihat dan mengetahuinya bahkan seakan tidak peduli, pada kenyataannya mereka pasti melihatnya dan megetahui kenyataan tersebut, lagu ini segaligus kritikan untuk pemimpin atau pemerintah yang berperan menangani masalah ini dan bagi mereka yang berpura-pura tidak mengetahui kenyataan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar